Cari

Kamis, 21 Mei 2015

Pesantren Darussalam Ciamis

 

Visi
Pesantren Darussalam sebagai pusat lembaga pendidikan Islam yang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan
Misi
1. Menggelorakan semangat pemurnian ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wa al-Jama'ah yang bersumber pada al-Qur'an dan as-Sunnah.
2. Membina budaya kesalihan (kesalihan individu dan kesalihan sosial) dan budaya kepakaran (asketisme intelektual) di kalangan santri  dan masyarakat.
3. Mengembangkan dan melestarikan ilmu-ilmu agama Islam yang tertuang dalam kitab-kitab kuning dan litelatur-litelatur modern.
4. Mendukung, melaksanakan dan mengamankan pembangunan nasional di segala bidang secara proaktif, dinamis, ikhlas dan bertanggung jawab.
Tujuan
1.  Berjiwa Islami, berwawasan kebangsaan dan berkepribadian utuh.
2. Bersifat terbuka dan tanggap terhadap perkembangan ilmu-ilmu Bahasa arab dan ilmu-ilmu agama Islam terhadap kemajuan IPTEK dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
3. Menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan pada masyarakat.
4. Menguasai dasar-dasar agama Islam beserta metodologi bidang keahliannya sehingga mampu memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di kawasan keahliannya, serta mampu berfikir, bersikap dan bertindak sebagai ilmuan Islam sekaligus sebagai ulama waratsatul anbiya.
Motto
1. Muslim Moderat : adalah sosok manusia muslim yang dapat bersikap luwes, tenggang rasa, bersolidaritas etis dan sosial, hormat pada sesama, jauh dari sikap angkuh, congkak dan ingin menang sendiri.
2. Mukmin Demokrat : adalah sosok manusia beriman yang berakar ke bawah dan berpucuk ke atas. pada saat di panggung kekuasaan dia tidak melupakan rakyat yang telah membesarkannya ; dan pada saat dia turun dari panggung kekuasaan dan harus kembali dengan rakyat, dia tidak putus semangat dan putus harapan.
3. Muhsin Diplomat : adalah sosok manusia yang mencintai kejujuran, keadilan, keberanian, kebajikan, keindahan, sopan santun dan berakhlak mulia. Dia akan selalu mengedepankan sifat-sifat yang baik dan terpuji dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan.
Satu hal yang acap dikenang oleh alumni Pesantren Darussalam adalah kebersahajaan pesantren ini dalam keseharian santrinya. Bahkan, seperti yang kerap terucap dari K.H. Irfan Hielmy (Alm)-pendiri Pesantren Modern Darussalam yang selalu mengajarkan kebersahajaan- setiap kali menerima kunjungan tamu, selalu disambut dengan kalimat yang sama, seolah menegaskan bagaimana seharusnya santri Darussalam mengambil posisi dengan kerendah-hatian, "selamat datang di tempat kami, pesantren yang sangat sederhana."
Ihwal kebersahajaan dan kesederhanaan Darussalam ternyata sama tuanya dengan sejarah pesantren ini. Nun di paruh 1929, 84 tahun silam, K.H. Ahmad Fadlil (wafat th. 1950), ayahanda K.H. Irfan Hielmy (wafat th. 2010), memulai kisah kebersahajaan dengan sebuah masjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak hanya diajari ilmu-ilmu agama, akan tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar dan lebih banyak lagi santri yang mondok.
Adalah suami-istri Mas Astapradja dan Siti Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat kepada K.H. Ahmad Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan santri, Pesantren Tjidewa menapaki guratan sejarah dengan optimisme menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran islam.
Menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di Pesantren Tjidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah dan perbandingan madzhab, di samping kitab-kitab ilmu sharaf dan ilmu nahwu.
Keputusan K.H. Ahmad Fadlil dengan hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak bisa terlepas dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Akan tetapi karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda, K.H. Ahmad Fadlil juga mengajarkan strategi berdiplomasi mengatasi tekanan penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda yang didapat dari kakeknya sejak di Sekolah Rakyat (Vervolg School)- dengan mudah bisa menyerap berbagai informasi yang kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.
Lebih dari itu, penguasaan terhadap teks berbahasa Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapalkan kitab-kitab seperti Jauharul Maknun, 'Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan syair-syair nya. Bahkan, pada usia 31 tahun ia telah berhasil menerjemahkan Qashidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri. Sampai sekarang, Qashidah Burdah berbahasa sunda yang merupakan karya terjemahan masterpiece K.H. Ahmad Fadlil masih terdengar dibaca dan didendangkan oleh santri-santri di banyak pesantren tradisional terutama di Jawa Barat.
Melalui sejarah yang panjang (berdiri tahun 1929 oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam telah berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat menggembirakan. Pondok Pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal Kiayi, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sederhana, kini telah memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa diantaranya cukup megah.
Disamping peningkatan fasilitas dan sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting lain adalah pengembangan sistem pendidikannya. ketika di banyak Pondok Pesantren lain masih mengkhususkan pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasawarsa 60-an, Pesantren Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal.
Pada tahun 1967, mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan modern dengan mengadaptasi model klasikal dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dar mulai Taman Kanak-kanak (TK) (di Pesantren Darussalam disebut Raudlatul Athfal/RA) hingga perguruan tinggi telah ada di pesantren ini.
Lembaga pendidikan formal yang pertama didirikan adalah Raudlatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), lalu Madrasah Tsanawiyah Darussalam/MTsD (setingkat SMP) pada tahun 1968. kemudian berdiri Madrasah Aliyah Negeri Darussalam (setingkat SMA) pada tahun 1969. Selanjutnya didirikan SMA Plus Darussalam yang merupakan lembaga pendidikan swasta pada tahun 2003. Sedangkan Pendidikan Tinggi (PT) di Pondok Pesantren Darussalam adalah berbentuk Institut yang didirikan pada tahun 1970, dengan nama Institut Agama Islam Darussalam (IAID) yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Disamping itu, pada tahun 1995 diselenggarakan pula Ma'had 'Aly, yaitu pendidikan tinggi Pesantren Darussalam. Mahasantri Ma'had 'Aly ini terdiri dari lulusan Madrasah Aliyah dan para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam dari berbagai fakultas yang memenuhi persyaratan, diantaranya telah mampu membaca kitab-kitab kuning.

MTS Darussalam Ciamis

Kepala
Dr. H. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag


Visi
Memiliki keunggulan kepribadian dan jiwa kepemimpinan secara kaffah
Misi
1. Membangun keterampilan berbahasa asing
2. Membangun motivasi dan bakat individual
3. Meningkatkan keterampilan memimpin
4. Menanamkan nilai spiritualitas dalam sistem pembelajaran
5. Membentuk pribadi-pribadi unggulan melalui keimanan, ilmu dan amal shaleh
Tujuan
1. Membentuk peserta didik yang menjunjung tinggi kepribadian yang didasari keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
2. Membentuk peserta didik yang menjunjung tinggi kemandirian dalam bersikap, bertindak dan berpikir yang berbasis Akhlakul Karimah.
3. Menciptakan pribadi yang memiliki jiwa kepemimpinan.
4. Menciptakan suasana kondusif dalam proses pembelajaran.
5. Menyediakan sarana dan media pembelajaran yang efektif  dan inovatif.
Program dan Kurikulum Pendidikan
1. Program Reguler : Kelas Program Reguler merupakan program pendidikan yang berorientasi pada kompetensi siswa dengan tujuan mendidik siswa Madrasah Tsanawiyah Al-Fadliliyah Darussalam agar mampu memahami dan mengaplikasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pengetahuan umum  (eksakta) serta memiliki keunggulan al-akhlak al-karimah sebagai jawaban atas tuntutan zaman.
Kurikulum yang diterapkan diarahkan pada pemberian pengalaman belajar yang berorientasi pada kompetensi yang telah ditetapkan. Muatan kurikulum tersebut terdiri dari :
a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kemendikbud dan Kemenag yang meliputi seluruh mata pelajaran yang diatur dalam kurikulum tersebut.
b. Kurikulum lokal yang meliputi seluruh mata pelajaran berdasarkan kurikulum Madrasah yang disesuaikan dengan program pendidikan yang ada di Madrasah Tsanawiyah Al-Fadliliyah Darussalam yang berbasis pesantren, serta kurikulum keterampilan fungsional seperti keterampilan komputer dan bahasa asing.
2. Program Bilingual : Kelas Program Bilingual (selanjutnya disingkat 'KPB') ini dimaksudkan sebagai suatu wahana penggemblengan siswa dan siswi Madrasah Tsanawiyah Al-Fadliliyah Darussalam dengan memiliki kemampuan di atas rata-rata yang perlu pengembangan lebih luas dan memiliki kecakapan dalam berbahasa Arab dan Inggris, sehingga mampu menjadi out come (lulusan) yang dapat di andalkan baik dari segi kemampuan Intelektual (IQ), kemampuan emosional (EQ) maupun kemampuan spiritual (SQ)-nya. Program KPB menuntut kepada para siswa yang menjadi anggota kelasnya mampu mempertahankan citra almamater Madrasah Tsanawiyah Al-Fadliliyah Darussalam yang dapat diperhitungkan oleh sekolah-sekolah lanjutan tingkat menengah atas, karena disamping memiliki keunggulan agama juga memiliki keunggulan dalam bidang keilmuan, keterampilan dan al-Akhlak al-Karimah.
Kurikulum yang diterapkan untuk KPB terbagi menjadi dua :
a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kemendikbud dan Kemenag dengan bahasa pengantar dalam pembelajaran menggunakan Bahasa Arab/Bahasa Inggris.
b. Kurikulum lokal sebagai ciri khusus KPB ini adalah Hafalan al-Qur'an dan Muhadharah dengan bilingual (Bahasa Arab/Bahasa Inggris).
Kurikulum KTSP dan kurikulum lokal disampaikan untuk mencapai standar out come KPB, yaitu :
1. Beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
2. Diterima di SMA/MA Unggulan.
3. Mampu berkomunikasi dengan berbahasa Arab dan bahasa Inggris.
4. Memiliki hafalan al-Qur'an minimal 3 juz.
5. Mendapatkan nilai SKHUN yang memuaskan.
Sarana Prasarana dan Kegiatan